Peluang usaha genteng tanah liat mungkin belum banyak dilirik. Padahal, usaha genteng ini juga termasuk bisnis yang luar biasa. Berbisnis merupakan cara terbaik meraih kehidupan yang sukses. Ekonomi pun bisa tumbuh dengan baik. Namun, harus sadar pula bahwa semuanya memerlukan ilmu dan harus dilakukan dengan bertahap. Penuh kesabaran dan tak tergesa-gesa.
Contohnya saja adalah perusahaan genteng ‘’UD MULYO” yang berdiri sejak tahun 1980 merupakan salah satu perusahaan genteng yang berdiri di Kecamatan Jatirogo, tepatnya Desa Wotsogo. Usaha keluarga ini pernah mengalami masa kejayaan pada tahun ’90-an’, yang bermodalkan pinjaman bank dan tanah seluas kurang lebih satu hektar. Pak Mulyo begitu nama pendiri perusahaan itu memulai usaha ini dengan hanya membuat batu bata, yang dikemudian hari merambah pada pembuatan genteng dan pembakaran batu gamping.
Pada tahun 2001, Pak Mulyo melibatkan putra keduanya yang bernama Teguh untuk membantu di perusahaannya. Ketika itu, Pak Teguh masih sekolah di bangku SMK. Karena banyaknya pesanan dari masyarakat, perusahaan Pak Mulyo kewalahan melayani pesanan. Dengan karyawan 28 orang, mereka menjadi salah satu perusahaan yang besar di Kecamatan Jatirogo.
Tiga tahun terakhir ini, Pak Mulyo menyerahkan perusahaannya secara keseluruhan kepada anak keduanya, Teguh. Ditangan Pak Teguh, banyak pengembangan yang dilakukan termasuk membeli alat pencetak dan alat penggiling tanah liat mesin. Sayangnya, perusahaan menemui kendala yang besar yaitu berkurangnya bahan baku utama yaitu tanah liat dan kayu bakar.
Kelangkaan tanah liat dan kayu bakar yang selama ini menggunakan kayu jati berpengaruh pula pada hasil produksi. “Tanah yang diambil dari dataran tinggi akan mengakibatkan tanah menjadi datar, namun bila tanah yang diambil dari tanah yang datar akan menimbulkan lubang-lubang yang akhirnya membutuhkan biaya untuk meratakannya kembali”ucap Pak Teguh. Menurutnya, tanah yang sudah digali pada kedalaman tertentu sudah tidak dapat diolah. Karena penggunaan yang lama, otomatis bahan baku juga semakin menipis. Hal ini juga diperparah oleh langkanya kayu bakar.
Pernah juga mereka mencoba menggunakan bahan bakar alternatif berupa batubara, namun hasilnya tidak maksimal, sehingga mereka kembali menggunakan bahan bakar kayu. Dalam sekali bakar perusahaan ini bisa menghabiskan 1 truk kayu atau kurang lebih sembilan kubik. Pada saat ini kayu juga menjadi barang langka, sehingga membuat harga kayu melambung yang menjadikan biaya produksi semakin tinggi.
Dalam sehari, perusahan ini dapat membuat kurang lebih 2000 genteng dari empat orang karyawan. Berarti, dalam satu bulan perusahaan ini menghasilkan 52000 genteng. Setiap 1000 genteng para pekerja mendapatkan upah Rp. 80.000,- Pekerja di perusahaan ini ada dua kategori yaitu pekerja tetap dan pekerja borong. Dalam sehari pekerja rata-rata bisa menghasilkan 500 genteng. Berarti, seorang karyawan mendapatkan gaji sebesar Rp. 1.040.000,- dalam satu bulan. Tentu memberikan penghasilan yang cukup lumayan untuk karyawannya.
Cuaca sangat berpengaruh pada hasil produksi. “Kalau musim hujan seperti sekarang ini, produksi genteng tidak bisa maksimal karena proses pengeringan menjadi semakin lama dan otomatis berpengaruh pada sering tidaknya membakar.” demikian kata Pak Teguh. “Tetapi jika musim kemarau produksi genteng bisa maksimal dan bisa mencapai tiga kali proses membakar.” imbuh Pak Teguh.
Dengan kerja keras tentu usaha pun akan berjalan dengan baik. Proses pun harus dilalui dari sedikit demi sedikit. Ada ungkapan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Begitulah proses yang mesti harus dijalani oleh mereka yang ingin sukses dalam berbisnis genteng ini.
